PART 1 - Sejuta Rahasia
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Hai! Namaku Senja. Ku harap kita bisa jadi teman. Karena aku memiliki sejuta cinta untuk siapa saja di dunia ini dengan satu syarat yaitu kamu harus bisa seperti fajar. Siapa fajar? Ini kisahku.
Di malam yang hampir sempurna dengan sinar rembulan dan sepercik cahaya bintang, langit pun membahasakan dirinya seperti kelabu. Aku duduk di atap rumahku beralaskan rasa bersalah. Halah. Aku rindu lagi. Setiap rindu yang muncul seberapapun tetap saja itu rindu. Aku benci merindu.
Andai saja dia tidak pernah datang, mungkin saja aku masih bahagia untuk merindu. Namun takdir sudah jelas sekali. Tak mungkin ku hentikan. Dia datang tanpa permisi, mengetuk hati dengan goresan senyum di wajah tak bersalahnya.
Aku masih ingat betul. Sewaktu kami menjadi remaja SMA, dia datang dengan wajah lugu ke kelasku. Memberikan aku sekotak coklat dan bunga mawar merah yang sangat cantik. Ku dapati secarik kertas berisikan "Hai senja, mau kah kau mendampingi aku? -Fajar-"
Itu yang kedua kalinya dan aku masih tak pernah melirik dia sedikit pun. Aku ingat sebelumnya dia lebih agresif dari hewan karnivora. Dia menyabotase radio sekolah untuk menyatakan perasaannya kepadaku. Aku pikir setelah kejadian dihujat hampir satu sekolah, dia akan malu dan bersembunyi di lubang semut. Ternyata aku salah besar. Bunga dan coklat yang dia beri tak ku hiraukan dan jadi tumbal kerakusan teman-temanku, Karina dan Saras. Aku senang mereka suka dengan hal-hal yang ku benci, setidaknya kami bisa berbagi.
Dua bulan berlalu, aku tidak lagi menemukan batang hidung Fajar. Aku tidak mencarinya, hanya saja gelagatnya sudah hilang ditelan waktu. Karina bilang mungkin saja dia di drop out karena kelakuan bandelnya itu. Saras lebih imajinatif, ia bilang Fajar mungkin saja ditelan serigala buas atau harimau yang lepas di kebun warga. Entahlah, tapi menurutku Fajar tidak menghilang, mungkin ia hanya malu pada waktu.
Cemasku berubah menjadi penasaran setelah Fajar muncul di kehidupanku lagi. Aku heran saja, kemana saja dia selama ini. Kali ini ia menungguku di dekat parkiran sekolah. Ia memanggil namaku dengan suara lirih. Aku hampir tak percaya bahwa ia yang memanggil aku. Barusan itu mungkin bukan Fajar yang biasanya seperti toa nyaring yang dimiliki pengurus OSIS. Lalu dengan rasa penasaran hebatku, aku menghampirinya. Aku sedikit cemas dengan wajah pucat dan lusunya. Aku pikir mungkin dia baru saja balapan liar seperti biasanya. Tapi kali ini benar-benar berbeda. Aku tidak melihat Fajar yang biasanya saat itu. Lalu ia menggenggam tanganku dengan tangan dinginnya. Erat sekali. Sampai jantungku berdetak lebih kencang daripada biasanya.
"Ja, aku seneng liat kamu tertawa. Itu jadi semangat aku untuk terus hidup. Kamu aku larang untuk bersedih. Senja gak boleh sedih sedikitpun. Awas aja kalo sedih. Pokoknya kamu harus seneng terus ya. Bahagia terus." Katanya dengan pelan. Aku tak pernah sekali pun mendengar perkataan sehalus dan selembut ini dari mulutnya. Ini yang pertama kalinya.
"Jar, lu kenapa sih? Abis mabok ya?" Balasku. Sebenarnya aku hanya ingin memecah suasana yang sedikit haru dan menegangkan ini. Fajar pun meneruskan kalimatnya.
"Aku mau kamu yang ada di samping aku setelah aku tidur nanti. Aku harap kamu bisa mendampingi aku, ja. Senja, aku mau hidup sama.. (*BUK*)" Belum selesai ia dengan kalimatnya, ia pun jatuh ke dinding di sebelahnya setelah reflekku gagal menariknya. Aku tak percaya, laki-laki seperti Fajar bisa pingsan juga. Saat itu aku panik setengah mati, tak perlu pikir panjang, aku pun berteriak meminta bantuan. Dengan bantuan Pak Andri, satpam di sekolah ku, Fajar bisa dibawa ke rumah sakit terdekat.
Komentar
Posting Komentar